Penyebab dan Ciri Infeksi Rahim

Photo of author
Team Lasehatin
Update:

Apabila terjadi infeksi pada rahim wanita, biasanya akan berdampak langsung pada kesehatan rahim itu sendiri.

Oleh karena itu, memahami penyebab serta ciri infeksi rahim sangatlah penting agar dapat mengambil langkah pencegahan serta menghindari risiko komplikasi di kemudian hari.

Penyebab Infeksi Rahim

Infeksi Menular akibat Hubungan Suami-Istri

Aktivitas hubungan suami-istri yang tidak sehat dapat menjadi pintu masuk berbagai bakteri dan virus berbahaya ke dalam rahim. Berikut yang perlu diwaspadai:

  1. Vaginosis bakterialis
    • Terjadi saat keseimbangan bakteri di area kewanitaan terganggu, sehingga bakteri gardnerella vaginalis berkembang lebih cepat dari bakteri baik. Kondisi ini dapat memicu infeksi rahim dan menyebar ke area reproduksi lainnya.
  2. Gonore
    • Penyakit akibat bakteri Neisseria gonorrhoeae yang menular lewat kontak intim. Bakteri ini dapat cepat menyebar dari area kewanitaan ke rahim dan saluran telur, serta memicu peradangan serius jika tidak ditangani.
  3. Chlamydia
    • Salah satu penyebab infeksi rahim yang umum namun sering tak disadari karena gejalanya tersembunyi. Bakteri chlamydia trachomatis menginfeksi leher rahim dan dapat menyebar ke bagian atas sistem reproduksi, sehingga memicu peradangan berkepanjangan.
  4. Herpes genital
    • Virus herpes yang menginfeksi area kewanitaan dapat menimbulkan luka dan peradangan. Meski umumnya menyerang bagian luar, virus ini bisa menyebar ke dalam dan mempengaruhi area reproduksi, termasuk rahim.
  5. Trikomoniasis
    • Disebabkan oleh parasit mikroskopis yang menular lewat hubungan suami-istri. Parasit ini dapat menginfeksi sistem reproduksi dan memicu peradangan yang mengganggu kesehatan area kewanitaan.

Infeksi Diluar Area Kewanitaan

Berbagai prosedur dan kondisi tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya infeksi rahim:

  1. Keguguran
    • Proses keguguran dapat menyisakan jaringan di dalam rahim. Sisa ini berisiko menjadi tempat berkembangnya bakteri dan memicu infeksi pada dinding rahim serta sekitarnya.
  2. Kuretase
    • Prosedur pembersihan rahim melibatkan alat yang masuk ke area reproduksi. Meski dilakukan hati-hati, tetap ada risiko masuknya bakteri atau virus yang dapat memicu iritasi dan peradangan rahim.
  3. Persalinan
    • Proses melahirkan membuat rahim rentan terhadap gangguan. Luka atau robekan saat persalinan dapat menjadi pintu masuk bakteri, ditambah kondisi tubuh yang lemah sehingga risiko infeksi meningkat.
  4. Pemasangan IUD
    • Alat kontrasepsi yang dipasang dalam rahim dapat meningkatkan risiko peradangan, terutama di awal pemasangan. Proses yang kurang steril atau penolakan tubuh terhadap benda asing dapat memicu infeksi rahim.
  5. Biopsi endometrium
    • Prosedur pengambilan sampel jaringan rahim melibatkan alat yang masuk ke area reproduksi. Terdapat risiko masuknya bakteri atau virus serta luka kecil yang dapat memicu peradangan.

Selain faktor-faktor di atas, infeksi rahim juga dapat terjadi pada wanita yang pernah menjalani operasi panggul atau usus buntu. Hal ini karena prosedur bedah di sekitar area reproduksi bisa mempengaruhi kondisi rahim, terutama jika proses penyembuhan yang sangat lama atau terjadi komplikasi.

Ciri-Ciri Infeksi Rahim

Pembesaran pada perut

Perut bagian bawah dapat terlihat atau terasa membesar, kadang disertai rasa penuh dan tidak nyaman. Hal ini terjadi akibat peradangan pada area reproduksi yang membuat jaringan mengalami pembengkakan.

Keluar darah tidak normal dari area kewanitaan

Pendarahan yang terjadi di luar siklus menstruasi normal atau setelah menopause perlu diwaspadai. Darah yang keluar bisa berwarna lebih gelap atau disertai gumpalan, yang menandakan adanya masalah pada rahim.

Keluar cairan tidak normal dari area kewanitaan

Keputihan yang tidak normal misalnya berwarna kehijauan, kekuningan, atau keabu-abuan dengan bau tidak sedap dapat menjadi tanda infeksi rahim. Jumlah cairan yang keluar biasanya lebih banyak dan teksturnya berbeda dari keputihan normal.

Demam dan menggigil

Suhu tubuh yang meningkat dan disertai menggigil yang berkaitan dengan masalah pada rahim biasanya tidak terlalu tinggi pada tahap awal, namun makin meningkat jika peradangan rahim semakin parah.

Nyeri saat buang air besar

Infeksi rahim dapat menekan area pencernaan di sekitarnya, sehingga menimbulkan kesulitan buang air besar atau nyeri pada rektum. Hal ini terjadi karena pembengkakan pada sistem reproduksi dapat mempengaruhi area di sekitarnya.

Nyeri pada panggul

Rasa tidak nyaman atau nyeri tumpul hingga tajam di area panggul dapat muncul terus-menerus atau hilang timbul, dengan tingkat yang berbeda dari ringan hingga sangat parah.

Sakit saat atau setelah berhubungan intim

Terjadi karena gerakan atau tekanan saat melakukan aktivitas hubungan suami-istri dapat mempengaruhi rahim yang sedang meradang.

Penutup

Itulah penyebab dan ciri-ciri infeksi rahim yang harus diketahui. Setiap wanita perlu lebih peka terhadap apa yang terjadi pada tubuhnya, terutama yang berkaitan dengan sistem reproduksi.

Jika mengalami satu atau lebih dari gejala yang disebutkan di atas, jangan ragu untuk segera melakukan penanganan.

Baca juga:
Cara mengobati infeksi rahim

Lihat Produk Herbal

Tulis Tanggapan atau Pertanyaan Disini …