Munculnya istilah hidrosalping karena tuba falopi mengalami penyumbatan dan terisi cairan. Akibatnya, sel telur dan sperma tidak bisa bertemu yang membuat sangat sulit untuk hamil, bahkan mustahil terjadi.
Maka dari itu, kami akan mengulas secara tuntas tentang jenis dan bahaya yang ditimbulkan oleh hidrosalping.
Jenis-Jenis Hidrosalping
1. Hidrosalping dengan tuba paten
Kondisi tuba falopi masih paten atau terbuka sebagian, artinya cairan yang menumpuk di dalam tuba masih berpeluang keluar melalui ujung tuba yang mengarah ke rahim.
Cairan yang keluar-masuk tersebut dapat membawa bakteri atau zat tertentu yang bersifat merugikan bagi embrio, sehingga membuat lingkungan rahim menjadi kurang mendukung.
Akibatnya, meskipun pembuahan berhasil terjadi, proses penempelan dan perkembangan embrio bisa terganggu. Banyak kasus keguguran terjadi karena hidrosalping tuba paten.
2. Hidrosalping non-paten
Sebaliknya, hidrosalping non-paten yaitu tuba falopi mengalami penyumbatan sepenuhnya di kedua ujungnya. sehingga cairan yang terjebak di dalamnya tidak memiliki jalan keluar.
Seiring waktu, cairan akan terus menumpuk dan membuat tuba falopi membesar, menyerupai balon yang terisi air.
Akibat penyumbatan total ini membuat sel telur tidak dapat bertemu dengan sperma, sehingga peluang untuk hamil hampir tidak ada. Selain itu, tekanan dari cairan yang terus meningkat juga dapat merusak struktur tuba falopi.
Bahaya Hidrosalping
Kemandulan
Tuba falopi yang terisi cairan dapat menjadi hambatan perjalanan sel telur dari ovarium menuju rahim. Di sisi lain, sperma juga kesulitan mencapai sel telur.
Lebih dari itu, cairan dari tuba falopi yang mengalir ke rahim dapat menciptakan lingkungan yang kurang ramah bagi embrio. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa cairan ini mengandung zat-zat yang bersifat merusak bagi embrio pada tahap awal.
Bahkan pada pasien yang menjalani program bayi tabung sekalipun, keberadaan hidrosalping bisa menurunkan tingkat keberhasilan hingga setengahnya. Hal ini karena embrio yang ditanamkan ke rahim menghadapi lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan mereka.
Yang lebih menyedihkan, semakin lama hidrosalping dibiarkan tanpa penanganan, semakin besar kemungkinan kerusakan pada tuba falopi. Sel-sel rambut halus (silia) yang berperan membantu pergerakan sel telur bisa mengalami kerusakan berat, membuat fungsi tuba falopi sulit pulih meskipun penyumbatan telah diatasi.
Infeksi kronis
Cairan yang terkumpul dalam tuba falopi bukanlah cairan biasa, melainkan tempat berkembangbiak yang ideal bagi bakteri. Ketika bakteri berkembang, infeksi pun terjadi. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit radang panggul, yang sewaktu-waktu bisa menyebar ke organ di sekitarnya, seperti ovarium dan rahim.
Infeksi kronis akibat hidrosalping juga dapat memicu terbentuknya jaringan parut atau adhesi di area panggul. Jaringan parut ini bekerja seperti lem yang membuat organ-organ yang seharusnya terpisah menjadi saling menempel, sehingga menimbulkan nyeri kronis sekaligus memperburuk masalah kesuburan.
Pecahnya tuba falopi
Tuba falopi yang terus terisi cairan berlebihan berisiko pecah, kondisi gawat darurat yang dapat menyebabkan pendarahan hebat. Kebocoran cairan dan darah ke rongga perut memicu nyeri mendadak di satu sisi perut bawah, disertai pusing, lemas, hingga pingsan.
Tanda-tanda lain yang perlu diwaspadai meliputi perut yang membesar dan terasa kencang, detak jantung yang cepat, serta penurunan tekanan darah.
Penutup
Pada akhirnya, memahami jenis serta bahaya akibat hidrosalping menjadi sangat penting agar kita terdorong untuk segera mengambil langkah pengobatan yang tepat.
Baca juga:
Cara mengobati hidrosalping